Konstelasi Imajinasi

Senin, 06 Mei 2013

Es Krim Cokelat Bercerita



PERNAHKAH kita berpikir mengapa manusia diciptakan berbeda satu sama lain? Ada milyaran manusia, namun tidak ada satupun yang sama diantara kita. Tak satupun. Sebuah keajaiban genetika, yang berarti sebuah tanda betapa ajaibnya kehidupan. Setidaknya itu yang kupikirkan saat melihat jutaan wajah yang tak pernah sama. Termasuk wajah cantik di sampingku yang sedang menyantap es krim cokelat dengan lahapnya. Wajah yang sudah belasan tahun kutatap namun tak jemu jua.

Dina adalah teman semasa kecilku, kami melakukan banyak hal bersama, mulai dari bermain layangan, hingga naik sepeda. Tidak hanya di rumah, di bangku pendidikan pun kami selalu bersama. Mulai dari bangku Sekolah Dasar hingga di bangku kuliah semester delapan ini, aku dan Dina menjadi dualitas yang tak terpisahkan, duduk di kelas yang sama. 

Melakukan banyak hal bersama bukan berarti kami tidak memiliki perbedaan. Sebut saja dari segi fisik, Dina orangnya putih seperti aktris Korea dengan potongan rambut sebahu dan mata yang berbinar. Sedangkan aku memiliki kulit sawo matang, dengan rambut yang sedikit ikal dan sorotan mata yang tajam. Selain fisik, perbedaan keyakinan merupakan hal yang mendasar antara aku dan Dina. Aku seorang muslim yang taat, sedangkan Dina seorang kristian. Namun perbedaan-perbedaan itu tidak menghalangi kami untuk selalu bersama. Banyak teman yang terheran-heran dengan hal ini  seolah-olah aku tak bisa hidup tanpa Dina. Namun mereka tidak tahu, dan mungkin takkan pernah tahu, bahwa Dina satu-satunya orang yang paling mengerti diriku lebih dari siapa pun.

Aku termasuk tipe orang yang ingin mengetahui banyak hal. Sifatku yang seperti itu, membuat aku menjadi orang yang sedikit cerewet. Sewaktu kecil, Dina mungkin bosan mendengar pertanyaan-pertanyaan nyeleneh yang terlontar dari mulutku sambil mengemut lolipop.

“Dina, mengapa rambutku keriting seperti gulungan benang sedangkan rambutmu lurus seperti di iklan shampo? Mengapa warna kulitku seperti es krim coklat dan kulitmu seperti es krim vanila?”
“Karena memang!”. Jawab Dina simpel tapi ikutan nyeleneh. Kami pun tertawa, tertawa bahagia masa kecil.

Jujur, saat bersama Dina, aku merasa tenang dan nyaman. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Saat dia disampingku, seolah-olah aku bisa melakukan apa pun. Termasuk saat ini, aku menyukai seorang gadis. Gadis yang sudah cukup lama kukenal. Dia teman sekelasku dan aku tidak tahu harus bagaimana, apakah aku harus mengungkapkan perasaan ini atau terus memendamnya, entahlah. Namun semakin dipendam, perasaan ini kian hari kian membuncah. Bagaikan volcano yang siap mengeluarkan lava dan aliran magmanya. Atau bagaikan kue pie dalam oven yang sedang dipanggang dan siap untuk meletupkan isinya, kira-kira seperti itu. Dan lagi-lagi, Dina menjadi pendengar setia radio hatiku yang siarannya kembali menggalau.

“Din, menurutmu aku harus bagaimana? Apakah aku harus nembak Fatin atau tidak?” tanyaku dengan intonasi sedikit berbisik di taman yang rimbun dengan pepohonan ini.

“Kalau kamu suka yaah tembak, masa biar nyatakan perasaan kamu nggak bisa sih? Kamu kan laki-laki, atau lebih tepatnya pria!” Jawab Dina berusaha meyakinkan diriku sambil memetik daun dari ranting yang terjangkau oleh tangan mulusnya.

“Tapi kan kamu tahu sendiri aku belum pernah pacaran, Fatin juga orangnya berselera high class, nah aku? Ndeso begini mau mencoba menyet dengan Fatin? Ibarat gelandangan yang jatuh cinta terhadap putri.” Aku tambah galau memikirkan nasib perasaanku yang mungkin tidak akan kesampaian hanya karena faktor finansial.

“Lagi-lagi merendah, mungkin saat ini kamu belum punya apa-apa, tapi aku yakin lima tahun kedepan kamu bakalan berhasil Fauzan. Orang secerdas, se-supel. dan se-bejo kamu mana mungkin tidak berhasil!” Dina  kembali meyakinkan. Kali ini dengna nada yang sedikit tegas.

“Tapi agamaku melarang pacaran, takutnya malah mendekati zina” kataku sambil menggerakkan jari jari tangan kiriku tak tentu arah diatas tempat duduk merah yang cukup untuk kami berdua. 

“Dinaa! Sekarang kan waktunya kerja kelompok untuk persiapan presentasi materi gender besok, kamu malah asyik cerita sama Fauzan. Ayo!” Suara asing mengganggu sinyal radio hatiku ke Dina, suara cempreng itu milik teman kelasku yang memang judes, Ika.

“Sebentar lagi yah, please! Nanggung nih… Kamu duluan aja yah…” Dina memelas dengan memasang wajah imut khas wondering something.

“Ok, waktu kamu lima menit untuk curhat-curhatan bareng Fauzan” Ika pun berlalu bersama daun daun yang berjatuhan diterpa hembusan angin sepoi.

“Ehm Ok, kalau begitu jangan tembak! Mending kamu simpan perasaan kamu. Dalam Islam kan dikenal konsep Ta’aruf, yah tiga bulan sebelum nikah kamu ta’aruf-an deh sama Fatin, abis itu nikah. Begini-begini aku tahu banyak loh tentang Islam dan menurutku Islam itu agama yang sempurna. tak bercelah!” Dina nyengir. memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi meski tanpa behel.

Rese’ yah kamu, kenapa tiba-tiba bahas agama? Tapi betul juga sih, mungkin itu cara terbaik yang harus kulakukan saat ini. Waiting.” Aku tertegun mendengar jawaban Dina. Hening.  Seolah-olah aku tercerahkan. Tercerahkan tentang aturan agama oleh seseorang yang justru berada di luar garis keimananku. 

“Eem… Fauzan, bagaiman jika Tuhan berkehendak lain? Bagaimana jika ternyata nanti kamu mencintaiku dan ternyata kita ini jodoh?” Dina memecah keheningan kemudian menatapku sendu, seolah ada pengharapan dalam raut wajahnya yang begitu rindang. Damai.

“Kau adalah sahabatku, oleh karena itu aku tidak mencintaimu Aku berkata lirih, kemudian tersenyum.

I see…” Dina kembali nyengir. Angin berhembus kencang. Kulihat Dina megucek matanya yang kemasukan debu. Dina kemudian bangkit lalu pergi meninggalkan jejak daun kering yang terinjak sepatu Machbeth miliknya. 

Aku masih duduk memikirkan petuah Dina. Kata-katanya yang berlalu lalang di dalam otakku menjadi sebuah lalu lintas kognisi yang begitu padat. Tersadar, aku menuju sekretariat HMJ untuk mengambil tas ku yang tersimpan sedari siang kemudian berlalu meninggalkan kampus menuju ke suatu tempat privasi tanpa gangguan siapa pun. Kamar.

***

MALAM menjelang. Aku berniat me-review materi minggu lalu untuk persiapan kuliah besok. Namun aku terkejut. Saat menggeledah tas, aku menemukan bingkisan kado berbentuk kotak kecil dengan motif hitam putih. 

“Apa ini? Eh, maksudnya siapa yang memberiku ini? Mengapa ia tahu bahwa besok adalah peringatan hari lahirku?” Aku tersenyum keheranan, tertawa dalam hati. Saat aku membuka kertas bingkisan itu selembar demi selembar, aku menemukan sebuah jam tangan.

 “Waw, dari mana ia tahu bahwa aku sangat ingin jam tangan? Dan… Dan dari mana ia tahu bahwa aku sangat menginginkan jam tangan dengan merek dan model yang seperti ini?” Aku merasa menjadi objek stalking seseorang. Seseorang yang fans… Tidak, seorang pengagum rahasia. Sekali lagi, aku tak mampu menahan perasaan senang bercampur rasa ingin tertawa. Di kepala ku telah menari wajah-wajah orang yang kemungkinan besar merupakan secret admirer tersebut. Namun sepertinya aku menemukan titik terang. Bersama dengan jam itu, terdapat secarik kertas bertuliskan:

“Bukankah pelangi tidak akan indah jika hanya satu warna? Bukankah es krim coklat akan terasa lebih nikmat jika disantap bersama es krim vanila? Jangan pernah pikirkan perbedaan. Karena semua perbedaan ini membuat harmonisasi yang lebih indah.”

Aku yakin hadiah ini dari Fatin. Gaya tulisannya  mirip dengan gaya tulisan Fatin. Selain itu, kami memang memiliki banyak perbedaan. Aku hanya laki-laki biasa sedangkan Fatin begitu jelita, cerdas, kaya dan berselera high class. Berkali-kali aku mengirimkan sinyal ke hatinya. Termasuk saat dia berulang tahun, aku memberinya boneka Winnie the Pooh. Boneka  kesukaannya. Dan akhirnya, aku menganggap jam tangan bersama secarik kertas ini sebagai jawaban. Aku bahagia. Aku senang bukan kepalang. Sepertinya malam ini aku akan mimpi indah.

***

HAL pertama yang kulakukan saat tiba di kampus keesokan paginya adalah mencari Fatin. Saat bertemu, ada perasaaan aneh yang menjalar di dadaku. Aneh sekali. Adrenalinku semakin kencang dan….

“Fauzan, selamat ulang tahun. Ini hadiah buat kamu.” Sembari memberikan bingkisan dengan motif polkadot. Saat kugenggam aku bisa menebak bahwa isinya adalah baju.

“Terima kasih atas hadiahnya lagi Fatin.” Aku mengembangkan senyum termanisku yang pernah ada.

“Lagi? Maksudnya?” Fatin terheran

“Iya, lagi. Bukannya kemarin kamu sudah memberiku hadiah?” Aku juga terheran. 

“Eem, Fauzan… Hadiah apa? Aku tidak mengerti sama sekali. Serius!” Wajah Fatin benar-benar serius kali ini.

“Ohaha maaf, aku semalam cuma mimpi” Mendengar itu Fatin pun berlalu meninggalkanku sendiri di taman ini. Kalau hadiah itu bukan dari Fatin, berarti…

Spontan aku mencari Dina. Jika asumsi ku benar maka yang memberiku hadiah jam semalam adalah dia. Sahabat terbaik yang pernah kumiliki selama ini, Dina. Mungkinkah seorang sahabat terbaik jatuh cinta terhadap sahabatnya sendiri? Aku tak habis pikir jika selama ini Dina menyimpan perasaannya yang begitu dalam. Aku merasa bersalah, selama ini aku terus membicarakan gadis lain di depannya. Membicarakan perasaan orang lain di hadapannya. Sungguh betapa tidak pekanya aku. Sugguh betapa bodohnya aku. Mulai detik ini kuputuskan tidak akan membicarakan kisah gadis itu lagi. Hadiah kemarin menyadarkan diriku untuk membuang perasaan ini jauh. Jauh ke suatu tempat yang aku pun tidak akan tahu.

 “Fauzan! Selamat ulang tahun, ciee yang sudah tua… Ini hadiah buat kamu… Pakai yah, awas kalau tidak, hidungmu nanti aku tusuk!” Aku menemukan Dina duduk sendiri di dalam ruang kelas yang kosong.

“Hadiah lagi?” Aku salah tingkah, Wajahku memerah. Ini tidak seperti ribuan pertemuanku sebelumnya dengan dia. Ada resonansi yang berbeda. Mungkinkah dia tahu bahwa aku telah tahu perasaanya yang tersimpan rapat dalam kotak masa kecil yang dikubur dalam kenangan belasan tahun silam? Entahlah. Namun aku melihat wajahnya begitu tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
 
“Lagi? Maksudnya? Oh aku tahu, pasti kamu sudah dapat hadiah dari Fatin… Iya kan? ciee…”Dina berusaha menggodaku. 

“Eh? Maksudnya? Bukannya kamu sudah memberiku hadiah kemarin? Iya kan?” Aku terheran. 

“Kamu mimpi yah? Hadiah yang kedua kali? Mana mungkin aku mau memberimu. Satu saja sudah cukup. Lagian beberapa hari belakangan dompetku menipis. Kemarin saja kamu yang bayarkan es krim waktu di taman.” 

Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Dina barusan, aku semakin pusing. Jika orang itu bukan Fatin dan bukan pula Dina, lalu siapa pengagum rahasia yang memasukkan bingkisan kado ke dalam tas ku kemarin? Aku es krim cokelat yang siap meleleh dilanda udara kebingungan.

***

Aisyah II

Tidak kah kau melihat Aisyah menangis?
Tidak kah kau melihat Aisyah bersedih?
Saat semua hilang entah dan pergi
Saat semua sepi menghantui

Mentari di siang tak lagi sakit
Purnama di malam telah berganti sabit
Cerita Aisyah tak juga habis
Kini ia berselimut sepi

Selendang Aisyah dini hari
Tak kenyang melahap makan dan pergi
Lalu ia teriak dalam keheningan gelap ini
Di bawah bulan yang tak purnama lagi

Nurani mencari keyakinan diri
Sebagai perempuan yang tak mesti nakal lagi
Agar ia bukan sekadar sosok dan nama diri
Bukan sekadar sosok dan nama diri

Aisyah teruslah engkau berlari
Mencari sosok yang dapat memperbaiki
Hijab yang melindungi diri
Dari sengat dunia yang dapat menodai

Malam malam sepi tanpa purnama lagi
Mencari terus mencari tanpa kenal henti
Aisyah teruslah kau berlari
Mencari sosok yang dapat memperbaiki


                                                               (2012, Thank's lagi kepada Ulfiani Rahmi atas inspirasinya)

Aisyah I

Aisyah kau tetap memandangi roda masa
Tak tahu apa yang kau pikirkan
Memberi kesaksian sejarah anak zaman
Mengerti yang mereka butuhkan

Kadang kau terpuruk dalam luka bayang-bayang
Kadang kau semangat dalam suka cahaya

Aisyah kini langkahmu semakin terarah
Berjuang untuk diri masa depan
Berorasi dalam aksi bahagianya jiwa
Hatimu sesuci kemuliaan

Kadang pesimis melanda sungguh hitam rasa
Namun optimis selalu membawa harapan

Aisyah Kau tidak sendiri di tengah dunia
Tetap melangkah bersama
Walau semua tidak seindah yang kau harapkan
Kau tetap memanah purnama

Dan tak lama kau semakin berjaya
Hingga nafasmu terengah
Kau semakin terlihat indah
Rupa seorang wanita

                                                                                           
                                                                        (2012, Thank's untuk Ulfiani Rahmi atas inspirasinya)

Rabu, 21 November 2012

Korupsi ala Kita-Kita


Korupsi tidak hanya kita temukan dikalangan berdasi bangsa ini, namun dapat juga kita temukan di sekitar kita. Yah, korupsi ala kita-kita lah…

Berbicara mengenai korupsi di Indonesia memang tidak ada habisnya. Korupsi telah mengakar ke segala sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Kuatnya akar korupsi ini  melahirkan koruptor dari berbagai macam kalangan, mulai dari pengusaha, anggota dewan, jaksa, hakim, polisi, mantan menteri, duta besar, artis, bahkan komisioner Komisi Pemilihan Umum semuanya lengkap. Tidak heran jika beberapa orang beranggapan bahwa korupsi telah menjadi budaya di Indonesia.

Sekarang mari kita renungkan, apa yang salah dengan Indonesia? Mengapa korupsi begitu merajalela? Ada dua persoalan yang terkait dengan hal ini, pertama adalah kurang tegasnya hukum yang berlaku di Indonesia. Seharusnya pemerintah menerapkan hukuman yang dapat menimbulkan efek jera, seperti hukuman mati. Masalah kedua adalah pendidikan karakter dan penanaman pemahaman kesadaran akan bahaya korupsi sejak dini yang belum terealisasikan. 

Beberapa dari kita, terutama remaja tidak menyadari bahwa sebenarnya secara tidak langsung, kita telah belajar praktek korupsi. UU TIPIKOR mengelompokkan tujuh tindakan-tindakan yang bisa dikategorikan sebagai korupsi. Dalam esay ini, saya tidak akan membahas contoh kasus yang besar dan secara pidana bisa dikategorikan korupsi, namun lebih mengarah ke pembahasan korupsi yang terjadi disekitar kita. Bisa dibilang korupsi ‘ala kita-kita’ lah. Hal ini seharusnya tidak boleh kita remehkan, jika kita mulai membiasakan tindakan ‘korupsi kecil-kecilan’ sejak dini maka suatu saat jika kita telah menduduki suatu jabatan tertentu, maka bisa jadi kita akan melakukan ‘korupsi besar-besaran’. Bukankah kejahatan tidak hanya datang dari niat si pelaku, tapi juga karena adanya kesempatan? Waspadalah! Waspadalah!

Korupsi yang Merugikan Keuangan Negara
Korupsi ini paling umum terjadi di Indonesia, salah satu contoh yang kini mulai terlupakan adalah kasus Century yang tidak kunjung selesai. Nah, contoh ala kita-kita adalah ketika kita dititipkan uang belanja sama ibu, setelah pulang ternyata kita menyimpan uang kembalian tanpa sepengetahuan beliau. Ini berarti kita telah melakukan korupsi!

Korupsi yang Berhubungan dengan Suap-Menyuap
            Di Indonesia, banyak hakim yang tersandung kasus penyuapan yang mencerminkan buruknya peradilan di Indonesia. Sebenarnya beberapa dari kita juga pernah melakukan korupsi jenis ini terutama pemuda yang hobi berkendara. Saat kita melanggar lalu lintas dan kita ditilang oleh Pak Polisi yang sedang cengar-cengir ujung-ujungnya kita pasti minta damai. Itu, atau Pak Polisinya yang berkata “Mau ditilang atau ditolong?”. Sebagian dari kita pasti lebih memilih ditolong, setelah tawar-menawar harga pas langsung tancap gas. Jika seperti ini, itu berarti kita juga melakukan korupsi!

Korupsi yang Berkaitan dengan Penyalahgunaan Jabatan
            Korupsi jenis ini makin marak terjadi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pemalsuan laporan keuangan dan pemalsuan tanda bukti. Jangankan Pegawai negeri, kita saja jika sudah berurusan dengan uang seolah tidak bisa menahan godaan. Misalnya saat kita membuat laporan pertanggung jawaban organisasi, saat ada dana yang entah lari kemana misalnya Rp. 200.000  tidak kita tuliskan di laporan akhir pertanggung jawaban. Itu artinya kita juga Korupsi! 

Korupsi yang Berhubungan dengan Pemerasan
            Ternyata semua Korupsi jenis ini merupakan Korupsi yang berbahaya karena diirigi dengan ancaman. Tidak perlu banyak contoh, ada salah satu bentuk pemerasan yang pasti kita kenal yaitu, palak-memalak! Tiap kali kita memalak uang dari junior kita di kampus itu artinya kita sudah melakukan korupsi!

Korupsi yang Berhubungan dengan Kecurangan
            Di Indonesia, jenis korupsi ini juga merupakan jenis korupsi yang paling umum, taruhlah kasus Wisma atlet dan proyek Hambalang yang ahir-akhir ini sedang naik daun. Kecurangan sangat sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak perlu jauh-jauh, menyontek saat final test adalah sebuah bentuk kecurangan alias korupsi ilmu. Begitu pula dengan bolos kuliah yang notabene mengkorup waktu. Saya tekankan, jika kita melakukan kedua hal ini itu berarti kita korupsi! 
   
Korupsi yang Berhubungan dengan Pengadaan
            Kasus pengadaan mungkin jarang atau tidak pernah kita temukan. Tapi esensinya tetap bisa kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, adanya kepentingan yang bertabrakan. Misalnya, saat masih SMA saya adalah vokalis di sebuah band dan baru saja terangkat menjadi ketua panitia Pensi. Seperti biasa, panitia bertugas menyeleksi band-band sekolah yang akan tampil. Tapi ternyata saya mengambil keputusan sendiri bahwa band saya boleh tampil tanpa seleksi terlebih dahulu. Ini namanya sudah korupsi pengadaan!

Korupsi yang Berhubungan dengan Gratifikasi (Hadiah)
           Gratifikasi disini bisa berarti uang, barang, diskon, fasilitas, dan lain-lain yang diberikan secara cuma-cuma (hadiah). Sama seperti pengadaan, rasanya kita jarang menerima yang namanya gratifikasi. Tapi prinsipnya sama, kita tetap melakukan tindak pidana korupsi kalau menerima hadiah yang tidak layak untuk kita dapatkan. Misalnya, suatu hari pacar teman saya bolos kuliah. Dia minta tolong agar si A (teman saya) untuk mengabsenkan namanya dengan imbalan meminjamkan PSP miliknya, yah teman saya malah senang karena dikira so sweet. Romantis? Tidak sama sekali, yang ada malah menyedihkan! 

              Itulah beberapa pengelompokan korupsi berdasrkan contohnya yang terjadi disekitar kita. Kita boleh menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja, tapi ingat: dari pola-pola berpikir seperti diataslah bibit korupsi akan tumbuh dan mengganas di kemudian hari. So, mari kita budayakan hidup yang bebas dari korupsi ‘kecil-kecilan’, dengan begitu kita bisa mencegah korupsi ‘besar-besaran’ yang akan terjadi di masa depan saat estafet kepemimpinan Indonesia berada di pundak kita. Mungkin terdengar utopis, tapi mulailah dengan diri kita sendiri. Sederhana bukan?

'Buku Putih' untuk para Koruptor

          Berbicara mengenai korupsi di Indonesia memang tidak ada habisnya. Korupsi telah mengakar ke segala sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Kuatnya akar korupsi ini  melahirkan koruptor dari berbagai macam kalangan, mulai dari pengusaha, anggota dewan, jaksa, hakim, polisi, mantan menteri, duta besar, artis, bahkan komisioner Komisi Pemilihan Umum semuanya lengkap. Tidak heran jika beberapa orang beranggapan bahwa korupsi telah menjadi budaya di Indonesia.

Pengakuan Indonesia sebagai salah satu Negara terkorup tidak hanya datang dari masyarakat pribumi alias Warga Negara Indonesia, namun juga datang dari warga Negara lain. Sebut saja Michael Backman yang dalam bukunya Asia Future Shock menyatakan bahwa Indonesia adalah Negara yang sepertinya ‘tidak punya masa depan’. Bagaimana tidak, korupsi yang menggila ini cukup untuk mendorong bangsa besar seperti Indonesia menuju kehancuran. Tidak segan-segan, di salah satu judul bab dalam bukunya, Backman melontarkan pertanyaan pesimis “Apakah Indonesia Punya Masa Depan?” sebuah pertanyaan yang berangkat dari realita dan secara pribadi sangat menusuk.

Sekarang mari kita renungkan, apa yang salah dengan Indonesia? Mengapa korupsi begitu merajalela? Ada dua persoalan yang terkait dengan hal ini, pertama adalah gagalnya pendidikan berkarakter dan penanaman pemahaman kesadaran akan bahaya korupsi sejak dini.

Masalah kedua adalah hukum yang berlaku di Indonesia untuk para koruptor sangat tidak tegas! UU TIPIKOR hanya memberikan batasan maksimal 20 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliyar untuk para koruptor denga kasus yang tergolong berat. Namun menurut saya, hukuman maksimal 20 tahun penjara sangat tidak efektif. Fakta lapangan berbicara, belum ada satu hakim pun yang memutuskan hukuman maksimal ini, itu pun jika jaksa penuntut memberikan hukuman 15 tahun penjara, maka hakim akan memutuskan hanya dua sampai lima tahun penjara saja. Dendanya pun seperti itu, okelah jika denda maksimal telah diberikan, namun yang menjadi pertanyaan apakah harta yang telah dikorupsi dikembalikan pada Negara? Ini yang menjadi persoalan. Jika denda yang diberikan hanya satu milyar namun harta yang dikorupsi mencapai puluhan bahkan ratusan milyar, maka tentu harga satu milyar tidak ada apa-apanya. Menggiurkan bukan?

Jika UU TIPIKOR mengenai hukuman maksimal diatas belum efektif, maka sudah saatnya pemerintah menerapkan ancaman hukuman baru, yaitu hukuman mati. Memang terkesan kontroversi karena masih meninggalkan pro-kontra di masyarakat, namun sebagai warga Negara yang baik dan ingin melihat bangsa ini maju, maka saya berada di pihak yang mendukung hukuman mati tersebut.  Memang jika kita lihat sepintas hukuman mati terlihat sadis, kejam, brutal,dan tak berperikemanusiaan. Namun sadarkah kita bahwa yang lebih tidak berperikemanusiaan adalah koruptor itu sendiri? Sadarkah kita bahwa karena orang-orang seperti merekalah bangsa ini diambang kehancuran? Menghilangkan sebuah nyawa yang memang bersalah tidak sebanding dengan puluhan, ratusan bahkan ribuan jiwa yang siap meregang nyawa karena kelaparan di bumi Indonesia yang seharusnya kaya.

Hukuman mati seperti ini berfungsi untuk menimbulkan efek jera dikalangan koruptor. Apalagi jika eksekusi dilakukan di hadapan umum dan diliput oleh media, tentu hal ini akan menimbulkan efek psikologis bagi para ‘penonton’. Dan sebagai ajang pembuktian bahwa inilah akibatnya jika seseorang melakukan korupsi.Hukuman mati seperti ini tentu tidak akan digeneralisasikan untuk semua koruptor, hanya kepada koruptor yang telah mencapai suatu batas korupsi tertentu yang akan dieksekusi.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana pemerintah memulai pelaksanaan hukuman mati ini? Di sini saya memiliki sebuah solusi yang unik. Solusi ini saya namakan ‘Buku Putih’. Jadi yang pertama harus dilakukan adalah KPK dan instansi terkait  mengidentifikasi seluruh koruptor yang ada di Indonesia. Setelah teridentifikasi dan terbukti benar mereka melakukan tindak pidana korupsi, maka seluruh harta atau aset Negara yang telah dikorup harus dikembalikan pada Negara hingga semua koruptor tersebut ‘bersih’. Setelah pengembalian aset Negara ini, tidak akan ada hukuman lebih lanjut dengan kata lain para koruptor tersebut dimaafkan. Pemerintah bisa menjadikan hari dimana ‘pemaafan’ ini terjadi sebagai Hari Bebas Korupsi Nasional, dengan harapan tidak adanya lagi kasus korupsi setelah hari itu, inilah makna dari ‘Buku Putih’. Pada hari itu pulalah awal diberlakukannya hukuman mati. Yakni siapa saja yang masih melakukan tindak pidana korupsi melewati batas yang telah ditentukan setelah hari itu, maka hukumannya jelas, eksekusi mati di depan khalayak umum dan media.
 

           Sekali lagi, tentu gagasan ini menghasilkan pro dan kontra, namun kembali saya mengingatkan bahwa jika kita ingin melihat Indonesia kembali berjaya seperti dulu lagi, jika kita ingin membuktikan bahwa Indonesia masih punya masa depan, jika kita ingin melihat Indonesia bebas dari sesuatu yang berbau korupsi maka satu-satunya hukuman yang tepat untuk para koruptor adalah hukam mati. Kebanyakan dari kita menjadikan China sebagai tolak ukur kurang efektifnya hukuman mati yang diterapkan. Hal itu karean China masih belum bisa memberantas korupsi secara keseluruhan hingga ke akarnya. Sekedar info, perekonomian China bisa maju setelah menerapkan hukuman mati ini. Logikanya, jika China yang notabene menerapkan hukuman mati di negaranya saja masih kecolongan, bagaimana dengan Indonesia yang tidak menerapkannya?