Konstelasi Imajinasi

Senin, 26 Oktober 2015

Selalu Ada Kenangan di Setiap Tempat dan Peristiwa -Live Report Blogger Camp Makassar 2015-

Begitu tahu bahwa Forum Lingkar Pena Makassar mendapat undangan untuk mengirimkan dua orang utusannya mengikuti Blogger Camp Indonesia 2015 di PPLH Puntondo, saya langsung melupakan skripsi yang tak kunjung selesai direvisi. Menjadi mahasiswa semester tua berarti siap menerima pertanyaan kapan wisuda, kapan nikah, dan kapan-kapan lainnya. Hilang sejenak dari kota, menulis dalam kesunyian, dan larut bersama para Blogger mungkin menjadi opsi menarik yang mampu melupakan rutinitas dan teror pertanyaan-pertanyaan horor di atas.

Meski senin sedang sibuk-sibuknya dan matahari 26 Oktober bersinar terlalu semangat, peserta tetap antusias berkumpul di Café Pojok Adhyaksa sebelum rombongan yang terdiri dari sebuah bus dan sebuah minibus menuju lokasi kamp, tidak ada yang terlambat. Selepas bersama-sama melarung doa ke langit, rombongan lantas menuju Takalar.

Sepanjang perjalanan, semua peserta terlihat antusias. Saya antusias pula melihat mereka. Blogger-Blogger keren dari berbagai komunitas di beberapa kota berkumpul bersama. Ada dari komunitas Blogger Makassar, Blogger Maros, Blogger Sinjai (yang dijemput di tengah jalan), Blogger Kompasiana, dan teman Blogger dari Kalimantan Barat. Ini seperti The Avengers, yang mana semua superhero  atau para jagoan (orang Makassar menyebutnya tolo’) berkumpul dalam satu kegiatan keren nan bermanfaat. Sepanjang perjalanan pula, begitu mulai masuk desa-desa pesisir Takalar, kami disambut lambaian tangan anak-anak. Dari balik kaca bus, saya menangkap tangan, mata, dan tawa mereka berbicara “Selamat datang, semoga hari-hari kalian menyenangkan.

Entah sudah kali keberapa saya menginjak tempat ini, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo. Sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah, tempat ini selalu saja membuat saya rindu. Angin laut sejak dari dulu bertiup sejuk. Pepohonan, pasir putih, dan bangunan-bangunan kayu selalu saja menyambut para tamu. Maghrib telah merajai langit, beberapa peserta mulai menuju asrama untuk bersiap-siap sebelum kami menghabiskan malam bersama.



Jaringan dari smartphone saya awalnya hanya sekarat di daerah ini, namun lantas mati sebab operator selulernya mungkin belum menjangkau pelosok-pelosok negeri. Untungnya, jauh-jauh sebelumnya, saya meminta kepada salah seorang teman yang menggunakan SIM card Indosat untuk membeli banyak-banyak paket data sebab berdasarkan informasi dan pengalaman, jaringan Indosat berkuasa di daerah Puntondo. Dia memang setia pada Indosat, dan berencana mengaktifkan IndosatLove begitu tahu kabar ihwal aplikasi ini.

Malam masih berlanjut, setelah makan malam, para peserta mulai saling berbagi tentang kisah-kesah mereka selama menjadi Blogger, dan perkembangan blog-blog di daerah mereka masing-masing. Saya terpaksa melewatkan malam tanpa menyaksikan acara-acara favorit saya di Net Tv demi ihwal ilmu dan kebersamaan seperti ini. Ada yang bercerita tentang semangat para blogger yang menurun, perubahan arah tulisan para Blogger, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lain.

Namun menariknya, para Blogger di beberapa tempat tetap eksis dengan menjalin relasi dan jaringan di luar dunia digital. Beberapa blogger yang rajin bertemu di dunia nyata dan intens berinteraksi akhirnya menjadi seperti keluarga, sebab meminjam istilah Prof. Mattulada, keluarga itu ada tiga: Perkawinan, Keturunan, dan relasi sosial.  

Hari pertama lantas ditutup dengan materi mengenai photoblogging. Pembicara memberikan teknik-teknik jitu, bagaimana mengambil gambar yang keren dengan teknik Entire, Small, Frame, Angle, dan Time. Materi ini menambah pengetahuan kami sekaligus mengubah kebiasaan kami yang senang ambil gambar biasa-biasa saja (yang penting ada), dan kebiasaan mengambil gambar dari web atau blog orang lain.

Hari kedua menjadi hari yang paling seru selama Blogger Camp ini dilaksanakan. Setelah sarapan dan menikmati udara pesisir dari laut yang telah surut, seluruh peserta riuh dan larut dalam keseruan ber-outbond. Dibagi menjadi empat kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari enam sampai tujuh orang, setiap kelompok harus menyelesaikan empat games yang luar biasa serunya. Kedekatan emosi lantas terbangun dari games seru yang kami lakukan. Bukan soal menang-kalahnya atau pakaian yang kotor karena kejahilan teman-teman, tapi ini soal keseruan. Tertawa dan bahagia bersama itu selalu paling berharga.




Para peserta kemudian sibuk membersihkan diri dan menyegerakan langkah menuju aula pertemuan, tempat diskusi terakhir dimulai. Setelah anggota dari Blue Bird Group menyampaikan keunggulan mereka dibanding perusahaan lain yang bergerak di bidang transportasi, materi digital marketing betul-betul membuka mata saya bahwa dunia digital bukan hanya sekadar pelampiasan dari kekecewaan di dunia nyata, ajang curhat di media sosial, tempat pencarian teman-teman baru, atau tempat memperoleh pengetahuan dan informasi terbaru, tapi lebih dari itu. Dunia digital mampu menyambung kehidupan kita dengan memperoleh penghasilan tambahan. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Saya lantas berpikir bahwa untuk melamar seseorang yang saya cintai, digital marketing menjadi alternatif untuk mengumpulkan mahar (panai’ dalam bahasa Bugis-Makassar) yang mungkin harus dicoba.




Setelah materi berakhir, makan siang menyambut kami sebelum meninggalkan tempat yang indah ini. Sepanjang perjalanan pulang nanti, saya yakin, anak-anak desa akan melambaikan tangan dengan sumringah dan seolah berkata “selamat tinggal, sampai jumpa, saya yakin hari-hari kalian menyenangkan.”

Seseorang pernah berkata bahwa meninggalkan suatu tempat sama halnya dengan kepergian kita dari hati seseorang, kita tidak akan betul-betul pergi dari sana, akan selalu ada yang tertinggal, sesuatu yang kita sebut kenangan.



Puntondo, 27 Oktober 2015

Minggu, 25 Oktober 2015

Menulis Cerpen Islami, Perhatikan Nilai-Nilainya -Catatan Dewan Juri Lomba Cerpen LISAN HIMIKA


            Seperti kebanyakan lomba-lomba cerpen lain yang menggaungkan istilah cerpen Islami, penulis yang mengirimkan karyanya dalam event LISAN oleh HIMIKA ini terjebak dalam beberapa kesalahan fatal. Jujur, ihwal ini membuat saya sedikit kesulitan menemukan cerpen-cerpen Islami yang berkualitas dalam tumpukan naskah. Saya selaku salah satu dewan juri akan memaparkan kesan sekaligus penilaian saya terhadap karya-karya yang masuk. Semoga dapat dimengerti oleh panitia dan oleh dewan juri yang lain.
            Jumlah keseluruhan naskah sebanyak 52 buah, peserta terdiri dari mahasiswa dan siswa (semuanya berasal dari kabupaten Bantaeng –mengapa?). Tidak seperti lomba cerpen lainnya, panitia LISAN secara langsung menyerahkan naskah cerpen kepada juri dengan tidak memisahkan judul cerpen dan penulis cerpen sehingga dewan juri mengetahui siapa sang empunya cerpen.  Seharusnya, panitia hanya menyerahkan cerpen anonim dengan nama penulis disimpan oleh panitia, seharusnya. Objektivitas menjadi hal yang -tentu– sulit untuk dihindari jika saja dewan juri mengenal salah satu penulis. Namun di sini, saya mencoba betul-betul objektif dengan memperhitungkan aspek-aspek penilaian dengan matang; standar teknis dari panitia, nilai yang dibawa, ide yang menarik dan antiarus kebanyakan, teknik penceritaan yang mengalir, bagus, dan tidak saling menabrak logika yang dibangun, serta hal-hal teknis seperti EYD.
            Seleksi pertama saya lakukan dengan melihat cerpen yang tidak sesuai dengan standar panitia, berupa jumlah halaman, jenis dan ukuran huruf, dan lain-lain. Selain itu, nilai-nilai yang dibawa dan berusaha diamanatkan dalam cerpen juga menjadi pertimbangan dalam seleksi ini. Semua cerpen yang tidak lulus seleksi awal disebabkan karena halaman cerpen yang ‘off side’. Selain itu, entah mungkin karena sebagian besar peserta adalah remaja SMA, tema-tema cinta dengan teknik penulisan teenlit menjadi ihwal mayoritas yang muncul dimana-mana, semuanya betul-betul penulis pemula (new beginner). Cerpen-cerpen yang mengangkat kisah tentang cinta pun terjebak dalam kasus yang mana tokoh berpacaran, atau sedang menyukai tokoh lain dan menggambarkan nilai-nilai menjalin hubungan pranikah, hal ini berarti cerpen tersebut tidak mengandung nilai keislaman yang berusaha diusung oleh panitia. Ihwal tersebut menjadi ihwal paling substansial sebab berkaitan dengan ideologi yang dipahami.
            Setelah naskah dipilah berdasarkan standar di atas, terpilihlah 29 cerpen yang kemudian akan diseleksi menjadi sepuluh besar. Cerpen-cerpen yang masuk ke dalam kategori sepuluh besar adalah cerpen dengan ide yang ‘sedikit’ tidak lazim dengan ide kebanyakan, teknik penceritaan yang sudah mulai bagus, dan penulisan teknis yang lebih teliti meski –yang namanya penulis pemula-, kesalahan-kesalahan EYD masih bertebaran di sana-sini. Dari sepuluh besar, saya lantas memilih enam cerpen yang menurut saya terbaik dalam keseluruhan naskah yang masuk.
            Cerpen dengan judul Cahaya yang Lain saya tempatkan di posisi keenam. Cerpen ini sebenarnya sederhana, namun teknik penceritaannya lumayan bagus. Saya berhasil mengalir ke dalam cerpen meski di pertengahan menjelang akhir, saya lantas ‘keluar’ sebab ‘arus’ mulai terkesan ‘aneh’ dan dipaksakan. Bercerita tentang siswa SMA bernama Dimas dan Arazee yang selalu saling sapa namun tidak saling mengenal satu sama lain. Di pertengahan cerita, Arazee menghilang sebab ia tiba-tiba buta (di sini cerita mulai kurang logis) namun akhirnya mereka tetap bisa bertemu lagi.
            Tuhan Itu Kemana, Ayah? merupakan cerpen yang menempati posisi kelima. Saya melihat amanatnya begitu dalam sebab bercerita tentang seorang anak yang harus berjuang keras bersama keluarganya agar tetap memperoleh penghidupan. Nilai-nilai kesabaran dan rasa syukur sangat kental dalam cerpen ini, hanya saja, penulis terkesan belum berhasil menyampaikan cerita dengan baik, kesan menggurui masih sangat kental, pula kesalahan-kesalahan EYD masih bertebaran dimana-mana.
            Cerpen yang ada di posisi keempat berjudul Maaf. Sangat sederhana, idenya tidak terlalu unik dan terkesan biasa saja, bahkan judulnya pun terkesan tidak menarik. Namun dibanding dengan dua cerpen sebelumnya, cerpen ini terkesan lebih matang dari segi ide, penceritaan, dan teknik penulisan. Simply but catchy. Meski begitu, kekurangan lain yang membuat cerpen ini gagal berada di posisi ketiga adalah terlalu banyaknya dialog yang sedikit mengganggu estetika isi cerpen.
            Menentukan cerpen yang berada di tiga peringkat teratas sebenarnya susah-susah gampang meskipun tidak sesusah menentukan jodoh. Ketiga cerpen yang memuncaki tangga ini bisa dibilang sangat lebih dari cerpen-cerpen yang lain. Ide sangat menarik, penceritaan yang matang, keterkaitan antarbagian, sampai ihwal teknis seperti EYD. Kekurangannya hanya perlu dipoles sedikit lagi.
            Cerpen berjudul Merindumu dari Bilik Terakhir bercerita tentang jiwa (atau ruh?) seseorang yang sejatinya akan segera menikah dengan orang yang dicintainya. Namun bencana pesawat Aviastar yang ia tumpangi menuju Makassar jatuh dan menewaskan dirinya. Ia lantas tak jadi naik ke pelaminan untuk bersanding kepada calon istri. Pernikahan tetap berlangsung, Zoya, sang calon istri bersanding dengan sahabat tokoh utama, Bora. Namun janji tokoh untuk menghadiri pernikahan dituntaskan dengan cara yang berbeda, ia datang dengan cara yang tidak biasa, bukan sebagai mempelai, bukan sebagai undangan, namun sebagai kenangan. Kekurangan dari cerpen ini adalah teknik penceritaan yang masih kurang bagus ketimbang dua cerpen kemudian, cerita yang terkesan kurang logis (seperti kenapa wasiat baru dibuat di atas pesawat sebelum kecelakaan?) dan penulisan teknis yang masih perlu diperbaiki.
            Bahtera Rohingya dalam Dekapan Samudera menjadi cerpen yang berhasil menempati peringkat kedua. Idenya sangat menarik, tentang dua orang kakak-adik bersama orang-orang etnis Rohingya yang terkatung-katung di samudera. Badai yang menerpa perahu mereka di suatu malam menjadi petaka yang membuat orang-orang –mungkin- hilang ditelan samudera. Tidak diceritakan apakah pasca badai tersebut sang tokoh utama, Kemis, berhasil selamat dari badai atau tidak, yang jelas kakaknya yang dicintai samudera meninggalkan kenangan dan pelajaran sedalam samudera itu sendiri. Kekurangan dari cerpen ini adalah cerita yang terkesan terburu-buru dan akhir yang kurang menggigit, selain itu penulis juga masih kurang teliti mengenai EYD. Kekurangan-kekurangan tersebut membuat cerpen ini gagal menerobos peringkat pertama.
            Cerpen yang menempati urutan pertama menurut saya adalah cerpen dengan judul Asy-Syifa. Cerpen ini sangat unggul dari segi ide, teknik penceritaan, ketelitian penulis terhadap kesalahan EYD, dan riset yang dalam. Semuanya betul-betul matang, setiap elemen beresonansi dan tidak meninggalkan lubang. Cerpen ini bercerita tentang sisi lain tentara zionis, seseorang yang masih memiliki hati dan sebenarnya tidak sepakat dengan perlakuan rekan dan atasannya terhadap kekerasan, pencaplokan wilayah, dan pelanggaran hak azasi atas warga Palestina. Semuanya mengalir, deskripsinya membuat saya seperti betul-betul menyaksikan penderitaan seorang Aisya dan ibundanya, kekejaman para invader dan kebimbangan Zaen, sang tokoh utama. Cerpen ini memenangkan hati saya.
            Saya kira sebagai dewan juri, banyak hal yang luput dari pengamatan saya sebagai manusia yang tentu diliputi oleh khilaf. Saya harap, tulisan ini memenangkan bahagia sekaligus keikhlasan di hati teman-teman juri lain, panitia, peserta, maupun siapa-siapa. Selamat merayakan hidup dengan tulisan.

Batara al-Isra
Jumat, 23 Oktober 2015


Catatan tambahan: Ini penilaian versi saya, belum versi juri yang lain. Saat pengumuman juara, bisa jadi pendapat saya berbeda dengan juri yang lain.  

Sabtu, 22 Agustus 2015

Sebelum Merah Putih Kawin dengan Langit

                                                         Sumber: dok. Ulfiani Rahmi

Dulu sebelum merah putih kawin dengan langit,
para leluhur terlampau percaya bahwa
nasi akan muncul sendiri memenuhi panci,
tak perlu dibeli dengan harga setinggi
tiang pinang yang dipanjat setengah mati.

Dulu saat merah putih dan langit masih baru sebagai
sepasang pengantin,  doa-doa dengan puluhan semoga
dilarung saban malam saban hari. Semoga percumbuan mereka
membawa bahagia bagi anak cucu pertiwi, semoga kita berdiri
di atas kaki sendiri, semoga kita terus hidup dari tanah dan air,
semoga ada tempat indah untuk meminang kekasih, semoga
tercipta surga tempat menimang bayi, dan semoga-semoga yang lain.

Tapi merah putih dan langit mungkin sudah tua saat ini,
para pendahulu telah pergi, kita sebagai penerus generasi  
tidak berbahagia dengan mata uang asing yang menginjak
mata uang negeri, kita punya kaki tapi lumpuh dan hampir
diamputasi, kita punya tanah dan air tapi harus mengemis
pada orang lain, kita kehilangan kekasih dan tidak punya bayi,
kita adalah anak cucu merah putih dan langit yang secara
tidak langsung berharap hubungan romantis mereka berakhir.

Orang lain akan mengganti puluhan ucapan selamat berbahagia atas
hidup baru dengan selamat menjadi anak cucu yang tidak tahu malu.
Ya, kita anak cucu yang lupa leluhur dan sudah tidak punya malu.

(Makassar, Agustus 2015)

*

Terbit di Fajar, edisi 16 Agustus 2015

Sepucuk Surat untuk Pahlawan yang Kupanggil kekasih

                                                  Sumber: agfaaurikha.blogspot.com

Ada sepucuk surat yang datang
bersama selongsong peluru hampa
yang habis terpakai lalu kau titip pulang
bersama untaian kisah yang tak terselesaikan.

Ada dua pertanyaan yang hanya akan terjawab salah satunya:
akankah kau selamanya di sana?
Atau akankah kau selamanya hilang?

Sepucuk surat yang datang ini penuh darah
dari medan perang, beberapa kalimat masih
kuingat seperti saat kau pertama ucapkan cinta,
“aku tidak lama, Sayang, sehabis merdeka langsung pulang.

Tapi surat yang datang ini membawa kabar tak sedap
tentang kemerdekaan yang ditunda, dan –tentu-
tentang kepulangan yang tertunda.

Sepucuk surat ini akan tersimpan dalam kapsul waktu
dan ditemukan sebagai artefak elan perjuangan
bagi generai masa depan: tentang pahlawan,
tentang untaian kisah yang tak terselesaikan.


(Makassar, 2013-2015) 

*

Terbit di harian Fajar, 16 Agustus 2015

Minggu, 02 Agustus 2015

Susahnya Ramadan di Jerman



Beda ladang, beda belalang. Ramadan di Jerman tidak semeriah Ramadan di Indonesia. Semuanya biasa saja, tidak ada panggilan sahur yang membangunkan orang-orang, tidak ada doa-doa menjelang berbuka yang ditampilkan di siaran TV lokal, tidak ada petasan, tidak ada yang istimewa. Itu yang saya alami tahun ini, mengikuti sebuah summer school di Freiburg, kota bagian selatan Jerman- membuat saya –akhirnya untuk pertama kali dalam hidup- menjalankan Ramadan jauh dari tanah kelahiran.

Jika di Indonesia puasa berlangsung selama kurang lebih 14 jam, maka di Jerman, puasa bisa sampai 19 jam. Hal itu karena jika Ramadan bertepatan dengan musim panas, maka siang akan sangat panjang. Bayangkan saja, matahari sudah terbit pukul 2.30 am dan baru terbenam pukul 9.30 pm. Sebagai orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan hal seperti ini, tentu hanya niat dan semangat yang membuat saya masih bertahan puasa sampai saat ini.

Malam terlampau singkat, alokasi waktu ibadah saat matahari terbenam harus diatur sedemikian rupa. Waktu antara berbuka,makan malam, shalat tarawih, tahajjud, dan sahur betul-betul seperti dilakukan dalam satu waktu, belum lagi waktu untuk tidur. Terkadang saya menggabung waktu antara makan malam dan sahur sebab jika harus bangun lagi akan sangat sulit. Saya pernah mencobanya tapi selalu saja kesiangan. Maklum, belum terbiasa.

 Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah nonmuslim, Ramadan menjadi hal yang begitu asing di telinga Freiburger bahkan meski Islamische Zentrum telah mengadakan festival menyambut bulan penuh berkah ini. Karena orang-orang tidak sadar, tidak tahu, atau mungkin berprinsip EGP (Emang Gue Pikirin), warga muslim menerima banyak sekali tantangan selama Ramadan, termasuk saya dan beberapa teman lain dari Indonesia yang mencoba untuk puasa.

Suhu mempengaruhi sulitnya berpuasa di negara-negara utara. Suhu di siang hari bisa mencapai 16°C sehingga rasa haus terkadang tidak mengetuk tenggorokan. Namun konsekuensinya, lapar sekonyong-konyongnya datang begitu saja. Hal yang sebaliknya terjadi jika suhu di atas 22°C, lapar memang bisa diatur, tapi haus menjadi hal yang susah dikompromikan.  

Keadaan sosio-kultural juga berdampak pada sulitnya berpuasa di negara nonmuslim. Meski tidak sulit menemukan perempuan berhijab di kota ini, tapi tetap saja lebih banyak perempuan-perempuan yang  pintar sekali mengumbar aurat -seperti kebanyakan perempuan lain di ‘dunia barat’-. Apalagi ini summer, waktunya untuk berpakaian semini mungkin agar matahari mampu merubah kulit putih menjadi lebih cokelat secara merata. Ini adalah tantangan yang sangat sulit. Setiap hari saya harus beraktivitas di pusat kota tempat orang-orang berlalu-lalang dan hal-hal seperti itu tidak bisa saya hindari. Perempuan-perempuan berpakaian tapi telanjang ada di mana-mana. Bersyukurlah teman-teman yang berada di negara muslim sebab hal yang seperti ini lebih jarang ditemukan.

Penjual makanan juga senang hati memanggil-manggil perut dan hasrat orang-orang untuk menikmati sajian di siang hari. Roti dengan aroma semerbak khas Jerman serta gelato alias Italian ice cream selalu saja terlihat sangat menggoda bagi saya. Pun penjual doner yang merupakan imigran Turki atau Kurdi –dan tentu saja muslim- masih saja menyajikan kebab, pizza, Yufka serta makanan halal lain di sudut-sudut jalan sebagai street food andalan kota ini. Meski mereka muslim, toko harus tetap dibuka selama Ramadan sebab toh bukan hanya muslim yang gemar makanan Turkische spezialiten, bahkan siapa pun pasti jatuh cinta. Itulah sebabnya setiap melewati kebab haus, godaan terasa sangat sulit.

Hal terindah selama bulan Ramadan di Freiburg adalah saat berbuka puasa. Sebuah kepuasaan tak tergambarkan selalu saja saya rasakan setiap mengakhiri puasa. Cahaya indah sisa-sisa petang menuju senja menjadi appetizer yang luar biasa nikmatnya. Saya biasa berbuka puasa bersama teman-teman Indonesia dari program yang kami ikuti bersama di tempat tinggal dosen pendamping kami. Semuanya kompak untuk mempersiapkan ta’jil, mulai membeli bahan makanan, memasak, hingga makan berjamaah.

Selain buka bersama di Liefmanhaus, terkadang saya berbuka di pusat kota, di kebab haus bersama teman saya yang dari Jerman. Meski dia tidak puasa, tapi dia rela menunggu saya dan kami menyantap pizza bersama. Dari sini saya melihat bahwa mereka sebenarnya menghargai  orang yang berpuasa. Menarik sekali.


Saya juga terkadang menyempatkan waktu untuk berbuga di Islamische Zentrum. Di Freiburg, ada dua masjid yang menjadi Islamic Centre warga muslim untuk lebih dekat pada Sang Khalik, yakni masjid Turki dan masjid Arab. Saya sangat senang menyantap ta’jil di masjid Arab. Awalnya kita diberi tiga biji kurma saat berbuka dan segelas air minum, lalu melaksanakan salat maghrib secara berjamaah. Sehabis itu, barulah kita makanan bersama-sama: roti, kari ayam, dan salat. Kebersamaan sangat terlihat di waktu-waktu ini, saling berbagi makanan, senyum –meski bahasa yang digunakan beragam, senyum memang bahasa universal untuk mengartikan bahagia-, orang-orang yang tidak saling kenal dipersatukan dalam satu ikatan: Islam.  

-Terbit di Fajar, bagian Mukjizat Ramadan

Alien dalam Lautan Penuh Hiu Bermoncong Lumba-Lumba

                                           Sumber: 1.bp.blogspot.com


Kita adalah alien-alien yang lahir dengan
menaiki daun-daun gugur, terbawa arus sungai globalisasi
bermuara pada lautan polusi moral dan etika.

Banyak dari kita tenggelam dalam palung kesesatan
selama masa perang pemikiran, mereka adalah 
pencari mutiara kebenaran tapi mengaku telah 
membunuh Tuhan. Makhluk-makhluk dari kedalaman 
menulis sajak tentang mereka sebagai transanimal 
berorientasi perut dan selangkangan.

Dunia bukan drama serial yang mudah menebak
mana lawan mana pahlawan, kabur seperti 
perhinggaan Atlantik dan Mediterania yang penuh 
hiu bermoncong lumba-lumba. Keselamatan tergantung 
dari kemampuan kita berenang, paham batas-batas, 
dan mengenal ekor siapa yang tajam
untuk menusuk dari belakang



(Makassar, Maret 2015)

Selasa, 16 Juni 2015

Keberangkatan

Aku berdiri dari balik kaca bandara hatimu,
melambaikan tangan dengan mesra dan melihat
dengan pasrah pesawat yang kautumpangi
menerbangkanmu menuju seseorang di masa lalu.


(Makassar, Mei 2015)