Sumber: Wikipedia.org
Makassar,
Januari 1904
LAKKOY, pemuda Aborigin
berusia 22 tahun, sedang sibuk mengangkat belasan jerigen penuh air ke kapal kayu
milik Daeng Haji di suatu siang yang sunyi. Kapal yang terparkir tenang di
pelabuhan Paotere itu bernama Mimpi Marege, sebuah kapal pencari teripang bernuansa
putih dengan satu tiang layar yang siap menaklukkan laut-laut selatan.
Lakkoy yang berkulit hitam pekat dengan rambut ikal
serabut telah menjadi objek gosip dan desas-desus orang-orang di Makassar.
Bagaimana tidak, di saat sawi-sawi yang lain berteduh dari tengah hari
yang membakar, ia tanpa mengenakan baju tetap melanjutkan pekerjaannya seolah
kulit telah bersahabat dengan sengatan matahari pesisir.
Lepas mengangkat semua jerigen, Lakkoy mengusap peluh
dari dahinya sembari duduk bersila di bagian belakang kapal. Sambil merasakan
angin melewati tiap senti tubuhnya, ia menatap langit siang yang cerah. Kaki
langit yang menyatu dengan laut menjadi garis pemisah imajiner antara ia dengan
keluarganya di Australia.
Puas memanggil kembali ingatan-ingatan dari seberang
lautan, ia menuju ke sebuah dipan yang diberi atap terpal tidak jauh dari
dermaga. Di tempat itu sudah menunggu tumpukan karung beras yang harus ia
angkat ke kapal. Daeng Haji yang merupakan punggawa
kapal berusia hampir 70 tahun, duduk di dipan sambil menghitung uang dan
menyeruput kopi hitam dalam gelas kaca. Sesekali ia perhatikan gerak-gerik
Lakkoy, memastikan apakah sawi tersebut
tetap kuat mengangkat karung beras yang bahkan ia sendiri mungkin sudah tidak
sanggup melakukan hal yang sama.
Sawi yang kehausan bekerja tanpa henti dan punggawa yang duduk santai menghitung
uang, membuat orang berpikir bahwa Daeng Haji telah mencuci otak Lakkoy
sedemikian rupa sehingga ia rela diperlakukan seperti budak.
“To Marege’, kau bisa mati kalau begitu terus!” Teriak
salah seorang sawi dari kapal
sebelah.
Lakkoy yang mendengar itu hanya diam dan terus
melanjutkan pekerjaannya, mondar-mandir mengangkat barang dari dermaga ke
kapal. Ia sudah terbiasa dengan sebutan orang-orang Makassar terhadap manusia
berkulit hitam dan berambut ikal sepertinya, To Marege’.
Lakkoy memang pekerja keras dan memiliki etos kerja yang
patut dicontoh sawi-sawi lain. Ia
tidak akan istirahat sebelum semua pekerjaannya selesai. Kesetiaan dan
kecakapannya itu membuat banyak punggawa menginginkan
Lakkoy bekerja pada mereka. Ada yang menawarkan upah lebih tinggi dan ada pula
yang menawarkan pekerjaan yang lebih baik. Tapi semua itu ditolak oleh Lakkoy.
“To Marege’, lebih baik kaupindah saja ke punggawa lain yang menawari upah lebih
tinggi dan tidak memperlakukanmu seperti budak. Kau belum istirahat dan belum
minum seharian!” Orang dari kapal sebelah kembali memulai pembicaraan, kali ini
dengan nada prihatin.
“Kebaikan harus dibalas dengan kebaikan,” Lakkoy
tersenyum sambil berlalu dari kapal sebab semua barang telah pada posisinya,
meninggalkan sawi kapal sebelah yang
terheran-heran.
*
BAYANG-BAYANG tiang
kapal menunjukkan waktu asar telah tiba. Lakkoy menuju masjid yang tidak jauh
dari pelabuhan, membersihkan dirinya, lalu mengenakan kemeja cokelat dan sarung
motif kotak-kotak. Ia masuk ke masjid yang masih kosong, mengambil corong
suara, dan mulai melantunkan azan. Orang yang mendengar azan Lakkoy akan
mengorek telinganya dalam-dalam untuk memastikan bahwa manusia baru saja
mendengar nyanyian surga. Suara emas ini pulalah yang membuat namanya menjadi
pembicaraan seantero Makassar.
Orang-orang memenuhi masjid seketika karena azan yang
berkumandang membuat hati siapapun bergetar. Orang akan langsung teringat pada
sosok Bilal jika melihat Lakkoy sedang memanggil para jamaah. Ini juga yang
menjadi alasan mengapa banyak punggawa menginginkan
Lakkoy menjadi sawinya. Sebab Lakkoy tidak hanya akan mendatangkan keuntungan
dari segi jasa, tapi status punggawa akan
naik di mata orang-orang.
Selepas salat asar yang diimami oleh Daeng Haji, Lakkoy
duduk di atas dipan dekat dermaga untuk memandang peralihan hari menuju sore.
Pikirannya kembali menerawang jauh ke tempat pertama ia dilahirkan. Melewati
selat Makassar, laut Flores, laut Timor, Malayan Road, hingga tiba di pantai
barat laut Australia, daerah milik suku Yolngu. Orang-orang berkulit putih
menyebutnya Arnhem Land.
Baru saja ia berkhayal bertemu sanak famili nun jauh di
sana, seseorang menepuk bahunya. Ia kaget bukan kepalang dan menoleh pada
seseorang yang membuyarkan lamunannya. Orang itu adalah Haji Hasan Daeng Bora,
salah satu punggawa terkenal di
Paotere. Ia memiliki banyak kapal dan juga banyak sawi yang semuanya sejahtera secara finansial, termasuk laki-laki dari
kapal sebelah yang tadi siang banyak bicara.
“Aku selalu memperhatikanmu, To Marege’. Setiap waktu kau
selalu menatap laut dan membayangkan dirimu pulang ke kampung,” Haji Hasan
tersenyum kecil sambil menyuguhkan gelas kaca bening dan cerek keemasan yang ia
peroleh dari tanah suci. “Minumlah, kau pasti kehausan setelah seharian bekerja
dan tidak seorang pun memberimu air, termasuk punggawa-mu sendiri.”
Lakkoy mengabaikan suguhan tersebut dan malah menatap
Haji Hasan dengan sedikit mengernyitkan alis seolah tidak sepakat dengan
sindiran yang baru saja diutarakan oleh laki-laki berusia 60 tahun itu.
“Tidak usah tersinggung, To Marege’. Aku hanya
menyampaikan keresahanku. Aku terus melihatmu bekerja sepanjang siang di bawah
panas matahari,” Haji Hasan memegang pundak Lakkoy seolah tahu beban yang ia
pikul.
Sebagai seorang punggawa,
Haji Hasan tahu bagaimana pekerjaan sawi.
Berat dan melelahkan. Ia memang tidak bisa menerima perlakuan Daeng Haji
siang tadi. Lakkoy telah sangat kehausan memikul barang-barang sementara Daeng
Haji hanya duduk bersantai di atas dipan membilang keuntungan, tidak
menyuruhnya istirahat, tidak pula menyuguhkan segelas kopi yang ia tenggak
dengan penuh bahagia.
“Kalau kau lelah, To Marege’, kau bisa pindah kepadaku. Akan
kuberi upah yang lebih banyak dan semua utangmu pada Daeng Haji akan kulunasi.
Lalu setelah bekerja selama beberapa tahun, akan kupulangkan kau pada
keluargamu di Arnhem Land,” Haji Hasan memberikan penawaran yang sangat
menarik.
Tidak ada sawi yang
mampu menolak tawaran seperti itu, kecuali dia adalah orang bodoh yang
menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup yang lebih baik. Lakkoy menatap mata Haji
Hasan dalam-dalam sebelum ia tersenyum dan tertawa kecil sampai-sampai giginya
sedikit terlihat.
Haji Hasan juga ikut tertawa melihat Lakkoy yang
sepertinya bahagia mendengar penawaran menggiurkan tersebut. Ia memang sangat
mendambakan Lakkoy menjadi sawinya. Sebuah kebanggaan tersendiri jika memiliki
sawi seorang muazin bersuara emas. Seantero kota akan mengabadikan namanya
sebagai punggawa dari sawi yang tak kenal lelah dan majikan dari
sang Suara Emas. Orang akan menaruh hormat padanya.
“Tawarkan hal menggiurkan itu pada sawimu yang paling setia saja,” Lakkoy memberi
pernyataan yang membuat Haji Hasan heran bukan kepalang.
“Apa masih kurang? Kau bahkan tidak akan kupekerjakan
secara penuh. Kau cukup mengawasi kerja sawi-sawi yang lain,” Haji Hasan berusaha
menaikkan penawarannya,
Lakkoy kembali tersenyum dan menolak dengan sopan tawaran
yang tidak tanggung-tanggung itu. Ini kali pertama Haji Hasan mendapatkan
penolakan dalam hidup. Penolakan yang justru datang dari orang yang tidak ia
duga, seorang sawi.
Untung saja saat itu tidak ada yang mendengar pembicaraan
mereka. Jika ada, sudah pasti Haji Hasan akan siri’
bukan kepalang. Di sore hari, pelabuhan Paotere memang dipenuhi oleh aktivitas
bongkar-muat ikan, sehingga orang-orang akan sibuk dengan masing-masing
pekerjaannya.
“Kau rela membuang niat baikku demi sebuah pengabdian
pada punggawa yang tidak berperikemanusiaan?”
Giliran Haji Hasan yang menatap tajam Lakkoy.
Tidak masuk akal bagaimana sawi yang satu ini tetap setia pada orang yang telah memperlakukannya
seperti budak: memisahkannya dari keluarga, membiarkannya kerja kepanasan tanpa
istirahat, dan tidak memberinya minuman.
*
MATAHARI akan segera
merangkak turun. Burung-burung petang mulai beterbangan mencari peristirahatan.
Langit mulai sepi, tapi pelabuhan semakin ramai. Cahaya matahari bersinar
lembut di permukaan laut. Lakkoy menerbitkan senyum, lalu tidak lama tertawa
membayangkan bagaimana orang-orang selalu mengira ia sangat bodoh sebab
diperlakukan seperti budak.
“Anda masih terlalu muda untuk menjadi punggawa,” Lakkoy menggaruk kepalanya.
“To Marege’ yang tidak tahu berterima kasih!” Haji Hasan
yang mendengar itu tidak terima. Ia sudah cukup menerima penolakan, dan
telinganya sangat panas untuk sebuah nasihat. Hampir saja cerek penuh air itu
melayang di kepala Lakkoy.
“Berlayar ke Makassar dengan kapal para pencari teripang
adalah impian orang-orang Arnhem Land,” Lakkoy mengungkapkan sebuah kebenaran.
Para pemuda Yolngu memang selalu berharap bisa melihat
bagaimana besarnya kota pelabuhan di semenanjung Sulawesi. Mereka menyebutnya Mangathara,
sebutan lain untuk Makassar. Kota dengan rumah-rumah kayu yang megah dan indah,
serta kapal-kapal kayu tangguh yang telah menaklukkan entah berapa puluh lautan.
Ayah Lakkoy yang seorang kepala suku, suka sekali menggambar kapal dan rumah
kayu di dinding-dinding rumahnya –yang hanyalah sebuah gua-. Ia berpesan bahwa suatu hari, Lakkoy harus
menuntut ilmu dari orang-orang Mangathara yang datang untuk mencari teripang.
Sepuluh tahun lalu, Daeng Haji menginjakkan kakinya di
Arnhem Land dengan beberapa armada kapal melalui Malayan Road. Lakkoy yang
telah terobsesi dengan pelayar-pelayar tangguh pencari teripang tersebut bersedia
menjadi pengikut setia Daeng Haji asalkan diizinkan ikut berlayar ke Makassar.
Permintaan itu disanggupi oleh Daeng Haji dan melatih
Lakkoy berbagai macam keterampilan orang-orang Makassar: diajarkan bahasa,
berhitung, dan ilmu navigasi. Tidak hanya itu, Daeng Haji yang memang dikenal
sebagai imam di daerah Paotere bahkan berhasil membujuk Lakkoy untuk memeluk
Islam, meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya yang menyembah A-ha-la. Lakkoy pun
diajar mengaji, diberi pelajaran bahasa Arab, fikih, dan yang paling penting
penguatan akidah. Saat belajar Islam itulah, ia dipercaya menjadi penjaga
masjid dan sebagai tukang azan bersuara emas.
Setiap tahun di penghujung Januari, Lakkoy akan ikut
berlayar ke Arnhem Land untuk mencari teripang. Kesempatan itu ia gunakan untuk
bertemu orang-orang di kampungnya, menceritakan pengalaman yang ia peroleh dan
menitipkan mimpi-mimpi pada anak kecil di sukunya sebelum ia kembali ke
Makassar.
Haji Hasan yang mendengar cerita Lakkoy memalingkan
wajahnya sambil membuang napas keras-keras. Ia tidak habis pikir, alasan Lakkoy
tidak kembali menetap di kampungnya dan tetap setia pada punggawa-nya bukan karena persoalan materi, tapi karena Daeng Haji
telah menjadi guru sekaligus orang tua Lakkoy. Ikatan yang terbangun melebihi
ikatan pungawa-sawi manapun.
“Jika ia telah menjadi guru sekaligus orang tuamu,
mengapa ia tidak menyuruhmu istirahat tadi siang?” Haji Hasan masih heran
dengan peristiwa tengah hari tadi. Seharusnya, justru karena sudah menjadi guru
dan orang tua, Daeng Haji harus lebih perhatian padanya.
“Aku benar-benar bersemangat sebab besok bakda jumat, aku
akan kembali mencari teripang di Arnhem Land,” tutur Lakkoy. “Kalau tadi Daeng
Haji menyuruhku istirahat,” lanjutnya, “aku tetap tidak akan berhenti sampai
pekerjaanku selesai. Beliau tahu itu, jadi beliau lebih memilih untuk diam,”
Lakkoy tertawa. Haji Hasan menganggukkan kepala. Mulai paham bahwa prasangkanya
selama ini benar-benar keliru.
Panas di hati Haji Hasan kini telah hilang bersama
hilangnya matahari di kaki langit. Lakkoy mengambil cerek di sampingnya dan
menuang isinya ke dalam gelas kaca bening hingga penuh. Ia meneguk air segar
itu sampai habis. Bahkan ia tambah lagi hingga tiga kali. Dahaga Lakkoy telah
terpuaskan.
“Terima kasih airnya, Haji Hasan. Buka puasa yang sangat
menyegarkan!” Lakkoy tersenyum sebelum berdiri dari dipan tempatnya
menghabiskan petang, lalu menuju masjid untuk melantunkan azan maghrib.
Haji Hasan baru ingat bahwa ini adalah hari kamis, dan
sebagai murid seorang imam terpandang, wajar saja kalau Lakkoy menjaga puasa
sunahnya.
“Maaf, To Marege’, saya sudah menyakiti perasaanmu dan
perasaan Daeng Haji!” Haji Hasan berteriak dari kejauhan, meminta maaf atas
kesalahannya.
“Daeng Haji selalu memanggil namaku, Lakkoy. Bukan dengan
sebutan To Marege’.”
***
Di Balik Cerpen
Sumber: press.anu.edu.au
INI adalah salah satu cerpen saya yang menjuarai lomba menulis cerpen Islami oleh LDM Al-Aqsa Unhas. Saya berterima kasih pada dewan juri sebab (katanya) mereka dengan mudah mampu menemukan pemenangnya. Di dalam salah satu catatan dewan juri mengenai lomba tersebut, kanda Fitrawan Umar menulis bahwa cerpen ini ditulis dengan riset yang yang mendalam (selain kanda FU, juri lainnya adalah kanda S. Gegge Mappangewa dan kanda Aida Radar). Memang benar, saya sudah lama ingin menulis cerpen tentang para pencari teripang, dan baru saja menemukan konsep dan konteks yang tepat.
Demi menghasilkan cerpen yang tidak jauh dari kenyataan sejarah (karena ini cerpen yang diangkat dari peristiwa sejarah), saya melakukan riset yang cukup lama untuk sebuah cerpen. Riset mengenai para pencari teripang ini saya mulai tepat pertengahan kemarau 2014 lalu, dan betul-betul intens mempelajari literatur sebulan sebelum cerpen ini saya kirim. Banyak artikel yang saya tandaskan dan beberapa buku bacaan tentang Makassar serta kemaritiman nusantara. Buku paling menarik yang saya tandaskan secara keseluruhan adalah Macassan History and Heritage: Journeys, Encounters, and Infuences (Editor: Marshall Clark dan Sally K. May, 2014) . Sebuah referensi lengkap kumpulan hasil penelitian paling mutakhir mengenai Macassan (Orang Makassar) yang mencari teripang sampai ke Australia. Banyak sekali hasil-hasil penelitian menarik dalam buku tersebut, seperti: Bagaimana para Macassan trepangers membawa serta budaya seperti bahasa, perkakas, pengetahuan, bahasa, dan agama (Islam) ke orang-orang Aborigin di kawasan Arnhem Land, Mereka betul-betul terpengaruh dengan Makassar.

Sumber: press.anu.edu.au