Konstelasi Imajinasi

Sabtu, 14 Oktober 2017

Tiga Penyebab Rendahnya Minat Membaca dan Berliterasi Siswa Sekolah Dasar di Indonesia

John W Miller dan Michael C. McKenna dari Central Connecticut State University di New Britain melakukan penelitian mengenai the world’s most literate nation, negara mana saja yang tergolong ke dalam negara-negara melek literasi. Hasilnya mengejutkan, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang melek dan menjadikan literasi sebagai tren. Sebagai pembanding, tiga negara tetangga berada di atas kita; Singapura, Malaysia, Thailand. Rata-rata dalam setahun, orang Indonesia hanya menghabiskan satu buku saja untuk ditamatkan. Ini berarti, kesadaran membaca dan berliterasi di negara kita sangat rendah.

Tidak akrabnya kita dengan bacaan sejak kecil menjadi bukti bahwa masyarakat belum menjadikan membaca sebagai kebutuhan. Seandainya membaca adalah kebutuhan sebagaimana juga minum dan makan, tentu membaca telah diperkenalkan pada kita secara masif dan terencana sejak dini. Saya masih ingat bagaimana sepinya perpustakaan sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Buku-bukunya berdebu dan rak-raknya penuh sarang laba-laba. Setiap istirahat, teman-teman saya hanya bermain di luar atau belanja ke kantin. Mereka tidak pernah ada niat untuk membuka buku apalagi menyambangi perpustakaan, hampir tidak pernah siswa menginjaknya. Bahkan hingga beberapa tahun setelahnya, perpustakaan di sana masih seperti dulu: kusam dan terlupakan.

Sama dengan kondisi perpustakaan yang sepi pengunjung, buku-buku penunjang pembelajaran pun kesepian sebab jarang dibuka pemiliknya kecuali saat guru memberi tugas.  Para siswa lebih asyik bermain saat istirahat di sekolah. Begitu pulang, mereka kembali bermain. Sangat sedikit dari mereka yang menyisihkan waktu untuk membaca buku penambah wawasan khas anak-anak atau sekadar buku cerita. Begitulah, bagaimana membaca merupakan hal sederhana yang kerap dianggap remeh. Kalau pun kita tanya para siswa, mereka pasti tahu membaca itu penting, membaca itu jendela dunia, tapi rasa-rasanya, kalimat tersebut kerap jadi slogan belaka. Tertulis indah di dinding sekolah, selalu dibaca, tetapi sangat jarang diamalkan.

Saya yakin, kasus di atas bukan hanya terjadi di sekolah dasar yang telah lama saya tamatkan. Hal itu juga terjadi di hampir seluruh SD di tanah air. Apalagi sekarang, era saat teknologi serba instan dan hiburan menggempur dari segala arah, minat baca dan bertandang ke perpustakaan semakin mendekati tandas. Anak-anak SD lebih senang menggunakan aplikasi permainan dalam gawai –orang tua- mereka ketimbang menggunakannya untuk mencari konten-konten yang sifatnya bahan bacaan, entah mungkin dalam bentuk cerita bergambar atau lainnya.

Jika ditelisik lebih jauh, setidaknya ada tiga hal utama yang menjadi penyebab persoalan mengapa budaya baca dan berliterasi siswa sekolah dasar di Indonesia sangat rendah. Ketiga hal dasar ini, jika ditemukan solusi yang tepat, bukan tidak mungkin minat baca masyarakat kita bisa meningkat. Ihwal tersebut yakni; dominasi budaya tutur ketimbang budaya literasi, kurangnya optimalisasi perpustakaan dan akses bacaan, serta kurangnya teladan dari orang dewasa.

Dominasi Budaya Tutur

Di negara kita, dominasi budaya tutur sangat susah digantikan dengan budaya tulis. Proses penyampaian informasi di antara masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya dilakukan melalui bahasa lisan, bukan dengan tulisan. Nenek moyang bangsa Indonesia baru mengenal budaya tulis kurang lebih 1600 tahun lalu yang ditandai dengan usia yupa prasasti tertua peninggalan Kerajaan Kutai. Itu pun masih sangat partikular karena di antara ribuan suku-bangsa, hanya orang Kutai yang baru mengenal huruf. Barulah beberapa puluh bahkan ratus tahun setelah itu, aksara-aksara menghiasi beberapa kerajaan di Nusantara. Tapi, tetap saja, bahkan sampai Bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi negara, beberapa suku-bangsa sama sekali belum mengenal aksara.
Melihat fakta bahwa membaca dan berliterasi belum seutuhnya membudaya dalam masyarakat kita, maka saya yakin apa yang disebut Thomas Kuhn sebagai paradigm shift atau pergeseran paradigma perlu dilakukan.  Beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan agar budaya baca-tulis mendominasi budaya tutur bisa kita contoh dari Finlandia. Di negara peringkat pertama the world’s most literate nation ini, kebiasaan membaca mulai dibangun sejak dini, bahkan sejak bayi.

Ketika orang tua baru memiliki anak, pemerintah akan memberi maternity package (paket perkembangan anak). Paket tersebut berisi keperluan bayi juga buku bacaan bagi anak dan orang tuanya. Cara ini terbukti ampuh mendekatkan bayi dengan literasi. Ketika tumbuh, anak-anak sudah tidak menganggap buku sebagai sesuatu yang asing.
Selain itu, kebiasaan mendongengkan anak dengan membacakan buku cerita diwariskan turun-temurun dalam keluarga masyarakat Finlandia. Di Indonesia, tradisi mendongeng juga telah dilakukan sejak jauh kala, namun dengan cara yang berbeda. Orang tua Indonesia berdongeng dengan cara ‘bercerita’ (tanpa melihat teks), bukan ‘membaca’. Memang, kedua cara tersebut memiliki substansi yang sama selama nilai-nilainya bisa tersampaikan, tapi, ada keuntungan lebih bila dongeng disampaikan dengan cara dibaca, yakni secara tidak langsung, anak akan akrab dengan buku bacaan, juga akan mencontoh orang tuanya untuk rajin membaca.

Hal menarik lain yang mungkin bisa dicontoh adalah adanya aturan penggunaan subtitle bahasa bagi film asing untuk anak-anak. Di beberapa negara, film dengan segmentasi pemirsa khusus anak-anak kebanyakan dialihbahasakan (dubbing) dengan harapan, anak-anak akan mudah mengerti pembicaraan dalam film. Namun di Finlandia, regulasi pemerintah mengharuskan film anak juga menggunakan subtitle layaknya film untuk remaja dan dewasa. Hal ini bertujuan agar anak sejak dini sudah terbiasa dengan kegiatan membaca, atau setidaknya terbiasa dengan teks-teks bacaan.
Kurangnya Optimalisasi Perpustakaan dan Akses Bacaan

Berdasarkan teori generasi yang dicetuskan Karl Mannheim pada 1923, para sosiolog masa kini membagi manusia menjadi beberapa generasi. Dua generasi paling mutakhir adalah generasi Z (gen Z) yang lahir pertengahan 90an hingga 2010, dan generasi Alfa (gen Alfa) yang lahir di atas tahun 2010. Anak-anak yang sedang dan akan duduk di bangku Sekolah Dasar saat ini adalah anak-anak yang lahir di rentang tahun 2005 hingga 2012 yang berarti siswa SD sekarang berasal dari generasi Z dan generasi Alfa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan minat baca mereka, orang dewasa harus memahami pola pikir generasi mutakhir ini. Meski keduanya punya ciri khas masing-masing, gen Z dan gen Alfa punya kesamaan, yakni melek teknologi dan penuh kreativitas.

Saat ini, perpustakaan sekolah masih menjadi satu-satunya tempat siswa memperoleh bahan bacaan dalam bentuk buku. Tidak bisa dipungkiri bahwa perpustakaan sangat menentukan minat baca siswa Sekolah Dasar. Berdasarkan keputusan menteri pendidikan tanggal 11 Maret No. 0103/0/1981, perpustakaan sekolah memiliki fungsi sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar, pusat penelitian sederhana, pusat baca guna menambah ilmu pengetahuan, dan rekreasi. Fungsi-fungsi perpustakaan ini akan lebih optimal dijalankan jika guru dan orang tua mengerti pola pikir gen Z dan gen Alfa.

Seorang siswa SD kelas IV pernah bercerita bahwa dia sangat jarang ke perpustakaan karena perpustakaannya kurang menarik. Selain itu, guru juga jarang menyuruh dia dan teman-temannya untuk bertandang ke perpustakaan. Cerita ini keluar dari mulut seorang anak kecil yang masih polos dan jujur dalam berkata. Oleh karena itu, agar fungsi perpustakaan bisa dijalankan dengan baik, ihwal yang bisa dilakukan pertama adalah membuat para siswa nyaman dengan perpustakaan, misalnya mendesain perpustakaan sekreatif mungkin dan sedemikian rupa khas anak-anak sehingga siswa menyukai suasana perpustakaan. Selanjutnya, lakukan pembiasaan berkunjung ke perpustakaan dengan membuat jadwal-jadwal khusus setiap hari agar siswa merasa tiada hari tanpa tidak menginjak perpustakaan. Begitu berada di dalam, guru sebaiknya menggunakan metode pembelajaran kreatif yang melibatkan buku bacaan sebagai instrumen, seperti mengadakan ‘lomba temukan judul buku’, ‘temukan kata’, dan lain-lain.

Selain mengoptimalkan fungsi perpustakaan, ketersediaan bahan bacaan khusus anak juga perlu diperhatikan, kalau perlu, bahan bacaan tersebut ditulis oleh kalangan anak-anak sendiri. Hal itu juga mampu meningkatkan kreativitas siswa dalam bidang literasi. Memang saat ini banyak ditemukan buku bacaan khusus anak-anak dengan segala jenis dan genrenya, namun hampir semuanya ditulis oleh orang dewasa, baik cerita anak, dongeng, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Sangat jarang buku khusus anak ditulis oleh anak seusianya. Sejauh ini, baru penerbit Mizan yang memiliki bagian khusus untuk menerbitkan buku hasil karya anak-anak, yakni Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Apa yang dilakukan penerbit Mizan sangat patut diikuti oleh penerbit-penerbit lain karena selain meningkatkan kreativitas dan semangat anak, segmentasi pasarnya pun jelas.

Senada dengan tujuan penerbit Mizan, salah satu organisasi penulis terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena juga memiliki program FLP Kids, sebuah wadah untuk mengedukasi anak-anak agar mencintai dunia literasi sejak kecil. Mereka yang tergabung dalam program FLP Kids ini diajar dan dilatih agar gemar membaca dan mampu menghasilkan karya berupa tulisan di media massa atau pun buku. Apa yang juga dilakukan oleh organisasi FLP ini patut ditiru oleh komunitas-komunitas menulis di seluruh Indonesia yang sedang menjamur. Semangat inilah yang perlu terus dijaga dan dipupuk agar generasi Indonesia mendatang dipenuhi penulis-penulis produktif dengan karya-karya kreatif ala gen Z dan gen Alfa.

Kurangnya Teladan dari Orang Dewasa

Salah satu sifat kebudayaan adalah diwariskan. Proses pewarisan kebudayaan dilakukan dengan berbagai bentuk pembudayaan, salah satu yang paling efektif adalah dengan memberikan teladan kepada penerus kebudayaan tersebut. Begitu juga dengan pembudayaan literasi. Para siswa akan rajin membaca ketika mendapati guru di sekolah juga membaca. Sama halnya di rumah, jika anak sering mendapati orang tua mereka selalu membaca, maka secara tidak langsung, anak akan meniru perilaku tersebut.

Anak adalah peniru yang ulung. George Herbert Mead dalam teori pengembangan diri manusianya menjelaskan bahwa seumur hidup, manusia akan terus belajar melalui pengembangan diri yang bertahap-tahap. Dimulai dari tahap persiapan (preparatory stage), tahap meniru (play stage), tahap siap bertindak (game stage), dan tahap penerimaan norma kolektif (generalizing stage). Jika dilihat berdasarkan usia dan kecenderungannya berinteraksi, tahap meniru dan bertindak merupakan tahapan usia siswa Sekolah Dasar. Pada kedua tahap itu, proses peniruan merupakan cara anak untuk mempelajari kebudayaan masyarakatnya. Anak-anak di masa ini perlu teladan dan ditunjukkan contoh-contoh yang baik, misalnya membaca.

Ketimpangan sering terjadi ketika guru di sekolah dan orang tua di rumah selalu menyuruh anak-anaknya agar rajin membaca, padahal mereka sendiri jarang dan malas melakukan hal tersebut. Apa yang didengar oleh anak tidak sesuai dengan apa yang dia lihat. Jika guru dan orang tua hanya memberikan instruksi tanpa contoh langsung, kebanyakan siswa tidak akan mengindahkan metode seperti itu. Oleh karena itu, cara paling efektif agar membaca dan berliterasi ini betul-betul membudaya adalah dengan menjadikannya milik bersama, bukan hanya diwajibkan bagi siswa, tapi juga bagi orang dewasa. Pemberian teladan merupakan kunci perbaikan generasi mendatang agar membaca dan berliterasi betul-betul membudaya pada masyarakat.

Pada akhirnya, tiga persoalan yang menjadi penyebab rendahnya minat membaca dan berliterasi siswa sekolah dasar bisa ditemukan solusinya. Menjadikan budaya tulis lebih utama ketimbang budaya tutur dengan melakukan pergeseran paradigma, mengoptimalkan perpustakaan dan akses bacaan dengan memahami pola pikir genereasi Z dan generasi Alfa, serta pemberian teladan dari orang dewasa merupakan solusi yang sangat mungkin dilakukan agar membaca dan berliterasi dapat membudaya. Solusi-solusi tersebut perlu implementasi riil secara bertahap agar tidak ada lagi ketimpangan antara kebudayaan ideal dengan kebudayaan nyata.


Sumber: dokumentasi pribadi

Jumat, 22 September 2017

Meninggalkan Dzulhijjah: Bulan yang Penuh Hari-Hari Mulia.

Tidak terasa, tahun kembali berganti. Baru sekali saya merasakan indahnya 1 Muharram yang lalu, menakjubkannya Rajab, teduhnya Ramadhan, meriahnya Syawal, dan semaraknya Dzulhijjah. Kita mengucapkan selamat tinggal pada 1438 H dan mulai menyambut 1439 H. Lalu mungkin, tidak lama lagi, kita memasuki 1440 H, ya, kita pasti tidak akan merasakannya juga seperti bagaimana kita tidak merasakan tahun ini berlalu begitu saja.
Tahun hijriah yang diambil dari sejarah hijrahnya rasul sebetulnya dimulai pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliaulah yang berinisiatif menjadikan momen hijrah sebagai tonggak perubahan tahun. Ada hikmah yang bisa kita petik, yakni pergantian tahun (atau waktu umumnya) senantiasa semakin diarahkan pada kebaikan. Semakin bergulir waktu, semakin berpindah waktu, semakin baik pula seharusnya perangai kita. Saya pribadi pun masih merasakan susahnya istikamah (maklum masih cinta dunia,
Sedih juga rasanya meninggalkan Dzulhijjah, sebab dalam beberapa hadits sahih dijelaskan banyak sekali keutamaan bulan Dzulhijjah yang tersimpan dalam hari-harinya. Bulan ini penuh dengan hari-hari mulia yang bahkan setara dengan bulan Ramadhan. 
Pertama, kita disuguhi ‘malam yang sepuluh’. Rasulullah mengatakan, sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah ini setidaknya lebih mulia dari sepuluh malam terakhir Ramadhan -derajat kemuliannya di bawah lailatul qadr dan orang yang 'menghabiskan seluruh darinya’ di medan jihad fi sabilillah. Introspeksi juga, betapa banyak hari-hari yang terlewat begitu saja dengan dosa dan maksiat, sementara lisan kita semakin enggan memuliakan-Nya.
Kedua, kita dijamu dengan hari Arafah. Hanya orang yang tidak mengkhawatirkan akhiratnya, tidak merasa berdosa, dan masa bodoh dengan amalnya yang tidak berpuasa di hari ini. Sebab puasa di hari ini mengampuni dosa setahun lalu dan setahun mendatang. Apakah kita menyia-nyiakan sebenarnya pengampunan dengan tidak ingin menahan lapar, syahwat dan dahaga dalam beberapa jam saja? Sungguh kerugian besar.
Ketiga, kita dimanjakan dengan hari kurban atau idul adha. Di hari ini, kita mengalirkan darah karena Allah. Sungguh, Ibrahmi dan Ismail adalah sebenar-benarnya teladan, dan keteladanan itu bisa kita contohkan dengan berkurban. Tak mampu sapi, kambing cukup. Betapa banyak waktu dan harta yang diberikan kepada kita, tidakkah kita bisa menyisihkannya setahun sekali saja? 
Keempat, kita diberi kesempatan untuk berkurban dan memuliakan Allah di tiga hari tasyrik. Secara bahasa, kata tasyrik berarti mendendeng atau mengeringkan daging. Di masa lalu, jalanan-jalanan di Madinah penuh dengan daging-daging kurban yang didendeng agar lebih awet. Di hari ini, bagi orang yang belum berkurban, diberi waktu tiga hari untuk menyembelih hewan dengan penuh keikhlasan.
Setelah memahami hari-hari mulia tersebut, masihkah kita ingin menganggap remeh keutamaan-keutamaan yang tersimpan dalam bulan ini? Jika kita termasuk orang yang lalai tahun ini dalam 'menikmati' bulan ini, semoga usia kita disanggupkan dan kita semua kembali dipertemukan dengan hari-hari mulia ini tahun depan.
Selamat tinggal 1438 H, selamat datang tahun baru 1439, selamat datang kebaikan-kebaikan.

sumber: kabarmakkah.com


Enam Langkah Sederhana Menulis Surat Resmi dan Contohnya

Dunia persuratan (baca administrasi) kadang membuat beberapa orang resah. Sebab, tidak semua dari kita mampu menulis surat, meski sebetulnya, teknik menulis surat ini telah dipelajari sejak duduk di bangku SD. Waktu itu kita mungkin ditugaskan membuat surat kepada teman yang jauh atau minimal surat izin. Kemudian di bangku SMP, kita kembali betemu dengan tugas surat itu, lalu di bangku SMA, tugas membuat surat semakin rumit saja. Namun, adakah pernah tertinggal pelajaran-pelajaran tersebut di kepala kita?

Saya berani mengatakan bahwa pelajaran semacam itu hampir tidak membekas sama sekali, sebabnya sederhana, kita tidak suka menulis, terlebih menulis surat. Semua kebutuhan kita ihwal surat ada yang menyelesaikannya. Di bangku SD dan SMP, saat kita sakit, yang menulis surat izin adalah orang tua. Baru mungkin ketika kita SMA hungga dudk di bangku perguruan tinggi, kita sadar bahwa surat merupakan hal penting di negeri ini. Seluruh urusan-urusan yang bersifat resmi menjadikan surat sebagai medianya, seolah suratlah yang menjadi legalitas sah tidaknya suatu urusan. Ingin meminta bantuan dana, ditanya "mana suratnya?" ditilang polisi, ditanya "mana surat-suratnya?", ingin ujian skripsi, diminta surat, bahkan mau menikah pun harus ada suratnya. Suratlah yang menentukan sah atau legal tidaknya suatu hal.

Sebetulnya kita tidak perlu menaruh khawatir berlebih, atau menganggap surat sebagai sesuatu yang mengerikan. Surat sebetulnya sangat erat dengan keseharian kita, hingga di dunia maya pun, interaksi melalui pos-el dengan seseorang yang jauh juga sebetulnya adalah sebuah aktivitas surat-menyurat. Kita saja yang sebetulnya malas untuk tahu sehingga kita memang tidak ingin tahu. Ingat sebuah kutipan, manusia itu takut pada hal yang tidak diketahuinya. Kita takut pada surat karena kita tidak tahu dan tidak kenal pada surat itu. 

Jika setelah membaca tulisan di atas lantas kamu masih tidak ingin membuat surat, berarti tulisan ini bukan untuk anda. Saya akan membagikan beberapa cara sederhana untuk memulai membuat surat.

1. Pastikan kamu tahu surat apa yang ingin kamu buat. Surat memiliki banyak jenis, ada surat yang bersifat resmi dikeluarkan oleh suatu instansi atau lembaga, sementara ada pula surat pribadi yang tentu dikeluarkan oleh diri kamu sendiri. Nah, surat yang dikeluarkan oleh lembaga itu, menggunakan kop surat khas lembaga tersebut. Tahu kop surat kan? Sejenis pengantar mengenai lembaga/instansi yang mengeluarkan surat, terletak di bagian paling atas surat, dan dipisah dengan garis. Bagaimana dengan surat pribadi? Ini tentu tidak membutuhkan kop surat.

Contoh kop surat. Sumber rs.unhas.ac.id


2. Surat resmi biasanya diberikan padamu dalam keadaan telah jadi, alias kamu tinggal mengunakannya saja. Orang yang mengetikkan surat adalah staf dari lembaga tersebut, karena merka tentu sudah punya format patennya, kamu tidak perlu repot-repot. Beda kalau kamu (yang membaca tulisan ini) adalah seorang staf dari sebuah lembaga yang disuruh membuat sebuah surat, tapi karena kamu tidak tahu, kamu malah mencarinya di Google dan menemukan tulisan ini :D Lalu kalau kamu ingin menulis surat secara pribadi, biasanya adalah surat yang bersifat pernyataan (Surat Pernyataan), nah saya akan tampilkan contohnya di bawah, kamu bisa mengik
uti formatnya, tapi jangan mengikuti isinya yah, sebab yang di bawah hanya contoh. 

3. Di dalam surat resmi suatu lembaga, selalu ada kata 'Perihal:' atau 'hal:', yang perlu kamu tulis di situ adalah untuk apa surat itu dibuat? Misalnya, surat itu adalah untuk mencairkan dana atau anggaran, maka di perihal tersebut kamu tulis 'permohonan pencairan dana' dan sebagainya.

4. Kamu bingung dengan no. surat? No. surat dibuat oleh bagian administrasi suatu lembaga. Bagi kamu yang kebetulan kerja di bagian tersebut, kamu harus perhatikan pola penulisan no. suratnya. Tapi bagi kamu yang hanya ingin menulis surat pribadi, rasanya tidak perlu kamu menomor semua surat masuk dan surat keluarmu hehehe

5. Tulislah surat apa adanya. Ini untuk bagian isi surat. Baisa ada yang bingung mengenai apa yang harus saya tulis di bagian isinya? Sederhana saja, tulislah pembukaan terlebih dahulu (biasanya salam atau ucapan selamat atau ucapan apa pun yang sopan dan membuat pembacanya bahagia) terus tulislah peruntukannya secara to the point, disertai beberapa penjelasan. Lalu terakhir, penutup. Mudah kan?

6. Jangan lupakan tanggal (meski biasanya ditulis di atas, namun tidak masalah jika juga ditulis di bagian bawah), juga penulis surat dan tanda tangannya. Ingat, sebuah surat tentu ada pengirim dan penerimanya. Penerima tentu ditulis di bagian awal surat biasanya dengan frasa "Kepada Yth" bagi surat resmi, lalu pengirim ditulis di bagian akhir surat beserta tanda tangannya (dalam surat resmi, tanda tangan ini keharusan, surat tanpa tanda tangan itu tidak ada harganya sama sekali) selain tanda tangan, biasanya juga ada stempel bagi lembaga dan pada umumnya dibubuhkan di sebelah kiri tanda tangan (jangan terbalik yah, biasanya stempel di kanan itu hanya bagi amatiran yang tidak mengerti dunia persuratan). Kecuali kalau suratnya bersifat pribadi, tidak perlu ada stempel khusus tanda tangan, namun sebagai gantinya, tanda tangan tersebut dibubuhkan di atas materai (biasanya materai 6.000) sebagai bukti legalitas.

Jadi seperti itu kira-kita beberapa tips sederhana membuat surat resmi baik keluaran lembaga, maupun pribadi. Sesuai janji saya, di bawah ini contoh surat resmi yang bersifa pribadi



SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda-tangan di bawah ini,

Nama: Andi Batara Al’Isra, M
Nama Pena: Batara Al Isra
Judul Naskah Puisi: Kepada Penenun Tapis

Menyatakan bahwa naskah yang saya kumpul untuk diikutkan dalam lomba cipta puisi nasional Karakatu Award oleh pemerintah Provinsi Lampng merupakan karya asli sendiri, bukan saduran atau plagitasi. Jika di kemudian hari saya dinyatakan melakukan pelanggaran, maka saya siap menerima sanksi yang ditentukan oleh panitia penyelenggara.

Hormat Saya,


 (materai) TTD

Batara Al Isra

Kamis, 21 September 2017

Kalau Ada Umur Panjang, Bolehkah Kita Terus Mencintai?

Banyak yang bilang mencintai itu ada batasnya. Kamu tidak akan terus mencintai seseorang dan orang tersebut akan melakukan hal yang sama. Tapi, benarkah?

Tanya pada hatimu sendiri, jika memang cinta itu akan hilang suatu nanti, maka untuk apa kamu mencintaiku saat ini?

Memang nanti adalah nanti, saat ini tetaplah saat ini, tapi jika kita sepakat bahwa cinta akan bertemu selesai sebelum salah satu dari kita bertamu ke makamku atau makammu, maka akhiri saja sampai di sini.

Tapi mungkin kita memilih kesepakatan lain, bahwa cinta itu abadi. Sebab, membayangkan kelak suatu ketika kita kehilangan cinta malah membuatmu menangis dan aku terus terjaga sebab terka-terka itu, juga sebab menjaga air matamu agar tidak habis.

Sejujurnya kita tidak akan sanggup menghadapi itu nanti, hari-hari saat cinta telah habis.
Maka sejauh mana upaya agar kita terus mencintai?


Sumber: dokumentasi pribadi

Selasa, 19 September 2017

Menikmati Espresso

Hal yang pahit bisa saja lebih mahal
dari hal yang manis.
Semuanya harus ditanggung tanpa canggung,
ditampung dalam cangkir yang disebut hidup.
Ia akan membuatmu terjaga dengan banyak sekali
dongeng tentang rasa bersalah,
atau tentang bahagia dalam pekat.

Sebab tidur adalah hal yang sia-sia,
dan orang-orang yang gemar lari
dari kisah kesah di dalam kafe selalu
menjadikan mimpi sebagai hal manis lain
yang berusaha terus diimpikan.
Mereka sebenarnya sadar,
tapi tiba-tiba menjadi lupa bahwa bunga tidur
tidak akan pernah mekar di taman kenyataan.

Freiburg, Juni 2015
-sambil menikmati Espresso di sebuah kafe Italia.d


Dokumentasi pribadi

Kisah Puisi

Puisi ini dibuat dengan sekali duduk. Waktu itu memang suasananya mendukung untuk menghasilkan karya serupa ini. Di Jerman, suasanya sejuk dan atmosfernya segar, sehingga untuk membuat karya serupa ini, kita seperti memiliki kekuatan dari dalam #apaan?

Kemudian, pada 2016 lalu, puisi ini menemukan jodohnya di  antologi puisi Benang Ingatan. Kumpulan puisi yang ditulis bersama oleh 10 penyair muda Makassat.

Senin, 18 September 2017

Doa Saat Menikah dan Doa Saat Mendekati Istri

Tulisan sebelumnya membahas ihwal doa yang apabila sering diamalkan, maka jodoh akan datang bertandang. Selain itu, doa tersebut juga bisa diamalkan bagi mereka yang akan menuju prosesi akad -mungkin ada yang deg-degan atau khawatir pernikahannya tidak dirahmati- juga bagi mereka yang akan segera melamar pujaan hatinya.

Masih tentang doa pernikahan, kali ini saya kembali membagikan doa-doa ampuh yang insya Allah jika dibaca di saat yang tepat, yakni di waktu-waktu-waktu mustajab (seperti sepertiga malam terakhir, saat hujan, bakda asar di hari jumat, dll) dengan penuh keyakinan, dengan ketundukan, dengan berserah diri seutuhnya, dan dengan puji-pujian kepada Sang Mahaagung, insya Allah akan dikabulkan.

Kalau doa sebelumnya beraifat 3 in 1, alias bisa dibaca meski hajatnya berbeda, kali ini doanya tidaklah bersifat demikian, masing-masing kepentingan memiliki doanya Sendiri-sendiri. Baiklah mari kita liat, berikut doa pertama.



رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَاناً نَّصِيراً

“Ya Tuhan-ku, masukkanlah dengan cara yang baik dan keluarkanlah (pula) aku dengan cara keluar yang baik dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. (Qs. Al Isra': 80)

Doa ini dibaca saat proses pernikahan berlangsung. Seperti yang dilihat, doa ini diharapkan membawa kebaikan bagi kedua mempelai, dengan harapan semoga pernikahannya dirahmati dan keluarga barunya digolongkan pada golongan orang-orang yang baik.

Itu tadi doa saat pernikahan, selanjutnya adalah doa saat mendekati istri. Di malam pertama, atau sebelum suami menyentuh istri, diharapkan seorang suami agar membaca doa terlebih dahulu kemudian doa teraebut diaminkan oleh sang istri. Jadi tidak langsung begitu saja, sang suami diharap bersabar dulu yah hehehe. Doa ini dibaca dengan harapan agar diberikan keturunan yang baik, dan agar setan tidak ikut campur dalam proses 'itu'. Tentu membayangkannya saja kita tidak ingin alias jijik, apalagi kalau sampai betul-betul setan sudah ikut campur, jangan sampai deh. Makanya, tahan-tahanlah dulu lalu jangan pernah lupakan Tuhan. Selain itu, agar anak yang dilahirkan kemudian dijauhkan dari gangguan setan. Baiklah, berikut doanya:


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ اَللََّهُمَّ جَـنِّـبْناَالشَّـيْطَانَ وَ جَنِّبِ الشَّـيْطَانَ مَارَزَقْـتَـنَا

”Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Ya Allah Ya Tuhan kami, jauhkanlah kami dari syaithon dan jauhkanlah syaithon dari (anak) yang Engkau karuniakan/berikan kepada kami”.

Itulah dua doa yang bisa teman-teman amalkan, insya Allah keluarga akan tetap dalam perlindungan Allah. Amin.



Sumber: Dokumentasi pribadi (Taken by Hafizah Raehana)




Doa Mendapatkan Jodoh, Doa Melamar, dan Doa Menuju Tempat Akad.

Menikah itu sebuah niscaya. Jika sudah waktunya, jodoh akan datang pada kita. Namun yang menjadi masalah adalah, kapan? Persoalannya menjadi rumit ketika usia semakin menua dan belum terlihat ada tanda-tanda jodoh yang mendekat. Jika sudah begini, kita mungkin berpikir, jangan-jangan yang duluan bertandang adalah maut ketimbang tambatan hati? Oleh karena itu, di bawah, saya membagi sebuah doa yang insya Allah bisa diamalkan.

Doa ini merupakan doa sebelum menikah. Baik bagi mereka yang akan menuju tempat akad, mau pergi melamar, ataupun belum dapat jodoh sama sekali. Insya Allah jika dibaca dengan sepenuh keyakinan, di sepertiga malam, saat hujan, atau pada saat dan tempat yang mustajab, Allah akan mengabulkan hajat kita. Doanya adalah:


رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”. Qs. As Syu'araa: 83


Doa tersebut bersumner dari Alquran yang tidak ada keraguan di dalamnya. Silakan diamalkan, saya juga mendoakan kepada pembaca yang memiliki hajat ihwal jodoh, agar segera bisa ke pelaminan. Amin.

Bagi kalian yang belum menikah, sudah waktunya kalian duduk di pelaminan
Sumber: Pribadi.